DO’A PENGHILANG SEDIH DAN GELISAH


Edisi:14/ Th.3
02 Rabi’ul Awwal 1430 H / 27 Februari 2009 M

Di zaman resesi dunia sekarang ini. Dimana kepastian adalah sesuatu yang mustahil adanya, terlebih jika kepastian itu disandarkan kepada nilai dunia dan seisinya, tentulah sia-sia yang didapat. Tidaklah fenomena yang terjadi sekarang kecuali telah menunjukkan cermin terang (dengan adanya krisis ekonomi global yang melanda dunia -pen) bahwa kepastian yang absolut itu tidak ada dan bahkan tidak mungkin terjadi kecuali apa yang datang dari Allah Subhanahu wa Ta’ala lewat lisan Rasul-Nya Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, karena itu adalah absolutasi (kepastian yang pasti – pen ) yang takkan terbantahkan bagi setiap yang mengimani adanya Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Rasul-Nya Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Termasuk orang kafir, musyrik dan munafiq sekalipun mereka akan mengakui bahwa yang datang dari Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah pasti, pasti dan pasti adanya. Sebagaimana kepastian rasa sedih dan bingung dalam menjalankan roda kehidupan ini dari sulitnya mencari pendapatan hasil olah pikir dan raganya. Kitapun tidak bisa menghindar dan berkelit darinya, siapapun dia , apapun statusnya, rasa sedih dan gelisah adalah keniscayaan dan kepastian yang pasti ada. Karena kabar dan solusinya telah diterangkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dan juga telah dirinci dan dijelaskan oleh para Ulama’.
Mari kita simak penggalan-penggalan “Do’a Penghilang Rasa Sedih dan Gelisah” yang telah diajarkan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam kepada umatnya. Diantaranya adalah do’a:

اللَّهُمَّ إِنـــِّي عَبْدُك َ ، ابْنُ عَبْدِكَ ، ابْنُ أَمَتِكَ ناَصِيَتـِي بــِيَدِكَ ، مَاضٍ فِيَّ حُكْمُكَ ، عَدْلٌ فِيَّ قَضَائُكَ ، أَسْأَلــُكَ بــِكُلِّ اسْمٍ هُوَ لَكَ سَمَّيْتَ بـِهِ نـَفْسَكَ ، أَوْ أَنــْزَلــْتــَهُ فِي كِتاَبــِكَ ، أَوْ عَلَّمْتــَهُ أَحَدًا مِنْ خَلْقِكَ ، أَوِ اسْتــَأْثــَرْتَ بــِهِ فِي عِلْمِ الْغَيْبِ عِنْدَكَ ، أَنْ تجَـْعَلَ الْقُرْآنَ رَبــِيْعَ قَلــْبـــِي وَ نــُورَ صَدْرِي وَجـَلاَءَ (1) حُزْنــِي وَ ذَهَابَ هَمِّي وَ غَمِّي

“Ya Allah, sesungguhnya aku adalah hamba-Mu, anak hamba-Mu, anak hamba perempuan-Mu, ubun-ubunku di (genggaman -pen) tangan-Mu, telah lewat (dan berlaku -pen) hukum-Mu kepadaku, ketetapan-Mu padaku adalah adil, Aku memohon kepada-Mu dengan (perantara) seluruh nama-Mu (yang baik), yang telah Engkau sebutkan bagi diri-Mu, atau Engkau turunkan dalam Kitab-Mu, atau Engkau ajarkan kepada seorang dari hamba-Mu atau Engkau simpan dalam ilmu ghaib yang ada di sisi-Mu, Agar Engkau menjadikan Al-Qur’an sebagai hujan (penyiram) hatiku, cahaya (penerang) dadaku, penghilang kesedihanku, pengusir duka dan kegelisahanku.” ((2) &( 3))

Dari Shahabat ‘Abdullah bin Mas’ud Radhiallahu ‘Anhu, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda (yang artinya):
“Tidaklah rasa sedih dan gelisah menimpa seorang hamba (4) lalu dia mengucapkan: (do’a di atas, berdo’a dengan do’a tersebut kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala -ed) , kecuali Allah Subhanahu wa Ta’ala akan menghilangkan kesedihan dan kegelisahannya serta menggantinya dengan kegembiraan (kebahagiaan)”. Maka para shahabat bertanya: “”Ya, Rasulullah, apakah kami boleh mengajarkannya”. Beliaupun menjawab: “Tentu saja, bahkan sudah sepantasnya bagi orang yang telah mendengarnya untuk mengajarkannya. (HR. Ahmad, Al-Hakim dan Ibnu Hibban). (3)

KANDUNGAN DO’A TERSEBUT
Do’a ini mengandung beberapa perkara yang berkaitan dengan Ma’rifatullah (pengenalan terhadap Allah Subhanahu wa Ta’ala -pen), At-Tauhid (pengesaan-Nya -pen) dan Al-’Ubudiyyah (peribadahan kepada-Nya -pen).
Orang yang berdo’a dengan do’a tersebut akan memulai do’anya dengan lafadz:

إِنـــِّي عَبْدُك َ ، ابْنُ عَبْدِكَ ، ابْنُ أَمَتِكَ
“Sesungguhnya aku adalah hamba-Mu, anak hamba-Mu, anak hamba perempuan-Mu,”
Penjelasan: Ucapan ini adalah pengakuan orang tersebut bahwasanya dia dan seluruh nenek moyangnya (mulai dari bapak ibunya hingga kepada Nabi Adam ‘Alaihis Salam dan Hawa ‘Alaihas Salam ) adalah hamba-hamba Allah Subhanahu wa Ta’ala. Maka sebagai hamba Allah Subhanahu wa Ta’ala dia harus beribadah hanya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala saja, dengan penuh penghinaan diri, ketundukkan dan penyandaran kepada-Nya, dengan menunaikan semua perintah Allah Subhanahu wa Ta’ala dan menjauhi semua larangan-Nya, berlindung hanya kepada-Nya, meminta tolong hanya kepada-Nya, dengan penuh rasa cinta, takut dan penuh harap.
Dan juga tersirat pada lafadz tersebut bahwa apa yang ada pada diri seorang hamba adalah milik pemiliknya yaitu Allah Subhanahu wa Ta’ala Demikian pula harta dan jiwanya adalah milik Allah Subhanahu wa Ta’ala, sehingga tidaklah digunakan kecuali ada perintah dan ijin dari-Nya.(4)
Pada lafadz berikutnya :

ناَصِيَتـِي بــِيَدِكَ
“Ubun-ubunku di (genggaman -pen) tangan-Mu,”.
Penjelasan: Engkaulah (Ya Allah) yang merubahnya (menjadikannya) untukku, Engkau bolak-balik sekehendak diri-Mu Sehingga bagaimana bisa seseorang menguasai dirinya kalau ubun-ubunnya saja di kuasai Allah Subhanahu wa Ta’ala ,dan hatinya pun dibolak-balikkan diantara jari-jemari Allah Subhanahu wa Ta’ala. Demikian pula dengan kematian dan kehidupannya, bahagia dan celakanya, sehat dan sakitnya semuanya kembali kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan tidak kepada hamba sedikitpun. Sehingga diapun bertawakkal hanya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. sebagaimana yang dikatakan Nabi Hud ‘Alaihis Salam kepada kaum-Nya, dalam kisahnya yang terdapat di dalam Al-Qur’an Surat Hud (yang artinya):
“Sesungguhnya aku bertawakkal kepada Allah Tuhanku dan Tuhanmu. Tidak ada suatu binatang melatapun melainkan Dia-lah yang memegang ubun-ubunnya. Sesungguhnya Tuhanku di atas jalan yang lurus.” (Hud:56)
Kemudian pada lafadz berikutnya :

مَاضٍ فِيَّ حُكْمُكَ ، عَدْلٌ فِيَّ قَضَائُكَ
“Telah lewat (dan berlaku -pen) hukum-Mu kepadaku, ketetapan-Mu padaku adalah adil.”
Penjelasan: Hukum (ketetapan -ed) Allah Subhanahu wa Ta’ala ada dua macam:
1. Hukum Agama yang bersifat syar’i (ketetapan-ketetapan-Nya yang berkaitan dengan Syari’at Agama, seperti: keimanan, shalat, jihad dan semisalnya -ed)
2. Hukum Kauni (kejadian) yang bersifat Qadari (ketetapan-ketetapan-Nya yang berkaitan dengan taqdir, serperti: rizqi, kematian, dan semisalnya -ed).
Kedua ketetapan tersebut akan terus berlaku pada seorang hamba, baik dia meng hendakinya ataupun menolaknya. Dimana hukum Allah Subhanahu wa Ta’ala yang bersifat kauni tidak akan bisa dilanggar oleh seorangpun (sehingga tidak akan ada yang bisa menghindar darinya, seperti: kematian -ed). Adapun Hukum Allah Subhanahu wa Ta’ala yang bersifat syar’i (agamis) maka terkadang masih ada yang melanggarnya (seperti: adanya orang kafir yang tidak beriman -ed).
Dan pada lafadz (yang artinya): “Ketetapan-Mu padaku adalah adil”
Penjelesan: Seluruh ketetapan Allah Subhanahu wa Ta’ala (berupa taqdir-Nya -ed) kepada setiap hamba-Nya adalah adil.
Adil dalam setiap sisi ketetapan-Nya, baik seorang hamba (ditaqdirkan -ed) dalam keadaan sehat ataukah sakit, kaya ataukah miskin, mendapatkan kelezatan atau rasa nyeri, baik dalam keadaan hidup atau mati, dia mendapatkan hukuman atau mendapatkan ampunan. Karena semua yang diperintah-Nya akan mendatangkan mashlahat (kebaikan -pen) dan semua yang dilarang-Nya akan dapat mendatangkan kerusakan (kejelekan -ed), sehingga pahala Allah Subhanahu wa Ta’ala berhak didapatkan oleh orang-orang yang memang pantas mendapatkannya berdasarkan keutamaan dari Allah Subhanahu wa Ta’ala dan rahmat-Nya, begitu juga siksa-Nya memang berhak dirasakan oleh orang-orang yang pantas merasakannya berdasarkan keadilan Allah Subhanahu wa Ta’ala dan hikmah-Nya. (Tanpa ada unsur kezhaliman (mengambil hak orang lain) sedikitpun, karena alam semesta dan segala isinya adalah milik Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dan Allah Subhanahu wa Ta’ala berhak berbuat sesuatu kepada hamba-Nya menurut kehendaknya berdasarkan keadilan dan hikmah-Nya -ed).(3)

Lafadz do’a selanjutnya (yang artinya):
”Aku memohon kepada-Mu dengan (perantara) seluruh nama-Mu (yang baik).” sampai seterusnya,
Penjelesan: Dengan ini berarti telah menjadikan semua nama-nama Allah Subhanahu wa Ta’ala- baik yang diketahui maupun yang tidak diketahui – sebagai wasilah (perantara dalam berdo’a -ed). Dan wasilah-wasilah (perantara -ed) tersebut adalah wasilah yang paling dicintai Allah Subhanahu wa Ta’ala, karena berarti hamba tersebut telah berwasilah dengan sifat-sifat-Allah Subhanahu wa Ta’ala dan perbuatan-perbuatan-Nya yang terkandung di dalam nama-nama-Nya.
Lalu pada lafadz selanjutnya:

أَنْ تجَـْعَلَ الْقُرْآنَ رَبــِيْعَ قَلــْبـــِي وَ نــُورَ صَدْرِي

“Jadikanlah Al-Qur’an sebagai hujan (penyiram) hatiku, dan cahaya (penerang) dadaku”.
Penjelesan: Arti Ar-Rabii’ adalah hujan yang bisa menghidupkan tanah sebagaimana Al-Qur’an yang dapat menghidupkan hati (manusia),
Demikianlah Allah Subhanahu wa Ta’ala menyerupakan Al-Qur’an laksana hujan. Kemudian mengaitkan air sebagai sumber penghidupan dengan cahaya sebagai sumber penerangan. (1)

JANGAN MENJAUH DARI AL-QUR’AN
Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam telah menjanjikan hilangnya kesedihan dan kegelisahan bagi seorang hamba yang mau berdo’a dengan do’a ini. Dan sungguh janji ini tidak akan terlaksana dan didapatkan oleh seorang hamba yang melanggar hak dan kewajibannya terhadap Al-Qur’an, serta menjauhkan diri darinya.
Al-Imam Ibnul Qayyim Rahimahullah menjelaskan beberapa bentuk perkara yang dapat menjauhkan kita dari Al-Qur’an, diantaranya:
1. Enggan mendengarkan Al-Qur’an, dan tidak mau beriman kepadanya.
2. Enggan mengamalkan (kandungan -ed) Al-Qur’an, serta tidak mau mengerti tentang perkara halal dan haram yang terdapat di dalamnya.
3. Tidak mau berhukum dengan Al-Qur’an dan enggan menjadikannya sebagai hakim (penentu) dalam pokok permasalahan Agama dan cabang-cabangnya. Dengan meyakini bahwasanya Al-Qur’an tidak dapat memberikan suatu keyakinan (dan kepastian -ed), serta meyakini bahwa dalil-dalil dari Al-Qur’an hanya sebatas lafadz (di bibir saja -ed) yang tidak akan menghasilkan ilmu (sedikitpun -pen)
4. Tidak mau merenungi dan memahami nya, serta enggan untuk mengetahui maksud pembicaraan yang terdapat dalam Al-Qur’an.
5. Enggan berobat dengan Al-Qur’an dan tidak mau menjadikannya sebagai obat untuk semua macam penyakit hati. (6)

PENUTUP
Kaum muslimin yang saya cintai, mudah-mudahan sepenggal kalimat ringkas ini menambah wawasan dan kekuatan iman kita kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, yang telah menurunkan Al-Qur’an sebagai mukjizat Rasul-Nya, sekaligus sebagai kekuatan bagi umatnya Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala menjauhkan diri kita dari penyesalan di dunia maupun di akhirat, tatkala Al-Qur’an sudah hadir di antara kita tetapi kita malah mengacuhkannya, Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman di dalam Al-Qur’an (yang artinya):
“Dan (ingatlah) hari ( ketika itu) orang yang zhalim menggigit dua tangannya, seraya berkata:”Aduhai kiranya (dulu) aku mengambil jalan bersama Rasul. – Kecelakaan besarlah bagiku; kiranya aku (dulu) tidak menjadikan si fulan itu teman akrab(ku). Sesungguhnya dia telah menyesatkan aku dari Al-Qur’an ketika Al-Qur’an itu telah datang kepadaku. Dan adalah syaithan itu tidak mau menolong manusia. Berkatalah Rasul:”Ya Tuhanku, sesungguhnya kaumku menjadikan Al-Qur’an itu sesuatu yang tidak diacuhkan.” (Al-Furqan:27-30).

Oleh: Al-Ustadz Ahmad Taufiq
(disertai penambahan dan pengurangan oleh editor)

Daftar Pustaka:
– Al-Fawaid, Ibnul Qoyyim Rahimahullah, Darul Fikri
– Tafsir Al-Qur’an Al-’Azhim, Ibnu Katsir Rahimahullah,Darul Jiil
– Al-Mukhtarush_Shihah, Zainuddin Ar-Rozi Rahimahullah, Maktabah Libnan
– Al-Maktabah Asy-Syamilah 1.

CATATAN KAKI:

(1) (جِلاَءَ ) boleh dibaca dengan huruf jim yang berkasrah “ Jilaa-a” , Wallahu ‘A’lamu bish_Shawab (Lihat Mukhtarush_Shihah (119)).
(2) Lafadz do’a tersebut adalah seperti yang disebutkan oleh Al-Imam Ibnul Qoyyim Rahimahullah dalam “Al-Fawaid” .
(3) HR. Ahmad Rahimahullah no.3712 (1/391) , Al-Hakim Rahimahullah no.1877 (1/690), Ibnu Hibban Rahimahullah no.972 (3/253). Dari shahabat ‘Abdullah bin Mas’ud Radhiallahu ‘Anhu , tanpa lafadz:( غَمِّي ).Dishahihkan Asy-Syaikh Al-Albani Rahimahullah
Ash-Shahihah no.199 (1/383). (Lihat Al-Maktabah Asy-Syamilah 1).
(4) Dalam riwayat Al-Hakim Rahimahullah: seorang muslim (-ed).
(5) Diringkas dari kitab Al-Fawaid, karya: Al-Imam Ibnul Qayyim Rahimahullah
(Lihat hal. 30 – 35).
(6) Diringkas dari kitab Al-Fawaid, karya: Al-Imam Ibnul Qayyim Rahimahullah (Lihat hal. 89).

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: